Buya Yahya Sebut Amalan Dahsyat Saat Ramadhan, Kerap Diabai, Padahal Kunci Agar Ibadah Tak Sia-sia

6 hari yang lalu
8


Loading...
Menurut Buya, amalan ini merupakan amalan yang lebih dahsyat fadilahnya tetapi banyak orang yang jarang menyadarinya.
Berita tentang Buya Yahya yang menyebutkan amalan dahsyat saat Ramadan yang sering diabaikan memang menarik untuk diperbincangkan. Ramadan adalah bulan penuh berkah di mana umat Muslim di seluruh dunia berusaha memperbaiki diri melalui berbagai amalan ibadah. Dalam konteks ini, apa yang disebutkan oleh Buya Yahya bisa menjadi pengingat yang penting bagi kita semua bahwa ada amalan-amalan yang mungkin terlewatkan tapi memiliki dampak besar terhadap kualitas ibadah kita. Salah satu poin penting yang sering kali diabaikan adalah niat. Niat yang tulus dan ikhlas sebelum melaksanakan ibadah dapat sangat mempengaruhi penerimaan amal tersebut di sisi Allah. Selama Ramadan, kita tidak hanya berpuasa, tetapi juga berdoa, membaca Al-Qur'an, berinfak, dan banyak lagi. Namun, jika niat kita tidak benar, bisa jadi amalan tersebut tidak akan mendapatkan pahala yang maksimal. Buya Yahya, dalam pandangan saya, mengingatkan kita akan hal ini agar kita selalu melakukan evaluasi diri sebelum dan selama Ramadan. Selain itu, Buya Yahya juga mungkin ingin menggarisbawahi pentingnya konsistensi dalam beramal. Sering kali, semangat ibadah muncul di awal Ramadan, namun seiring berjalannya waktu, banyak di antara kita yang mulai merasa lelah atau kehilangan motivasi. Kunci agar ibadah tidak sia-sia adalah dengan menjaga konsistensi dan melakukan amalan tersebut dengan penuh kesadaran. Ini adalah pengingat bahwa setiap amal kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan berkelanjutan juga akan dihargai oleh Allah. Amalan-amalan yang disebutkan dalam berita ini bisa berkisar dari yang sederhana, seperti senyum kepada sesama, hingga yang lebih besar seperti menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Hal ini akan sangat berkontribusi pada peningkatan kepedulian sosial kita dan mendekatkan diri kepada Allah. Dalam konteks ini, Ramadhan bukan hanya soal puasa fisik, melainkan juga puasa hati dari perilaku-perilaku negatif. Akhirnya, penting untuk menyadari bahwa pembelajaran dari Ramadan tidak seharusnya berhenti ketika bulan suci ini berakhir. Semua amalan baik yang kita lakukan seharusnya menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari kita. Buya Yahya menekankan hal ini sebagai kunci agar ibadah kita tidak sia-sia dan mampu memberi dampak positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar. Jadi, tanggapan saya terhadap penekanan Buya Yahya mengenai amalan yang sering diabaikan ini adalah pentingnya kita melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap niat serta kualitas amalan kita. Dengan cara itu, diharapkan kita dapat menjalani Ramadan dengan penuh makna dan kembali ke kehidupan sehari-hari dengan semangat yang baru. Beribadah seharusnya bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi sebuah perjalanan spiritual yang terus berlanjut sepanjang tahun.

Setujukah? Bagaimana pendapat anda? Berikan comment or reaction dibawah
Like emoji
Like
Love emoji
Love
Care emoji
Care
Haha emoji
Haha
Wow emoji
Wow
Sad emoji
Sad
Angry emoji
Angry

Tags

Comment